Bank Indonesia Turun Tangan Stabilkan Rupiah di Level 17.337 per Dolar AS

Jakarta, aksarabaru.com – Rupiah kembali mengalami tekanan pada perdagangan Senin, 4 Mei 2026, setelah bergerak di kisaran 17.337 hingga 17.367 per dolar Amerika Serikat. Meski sempat menguat tipis 0,1 persen di pembukaan, mata uang Garuda kembali melemah menjelang siang hari akibat tingginya permintaan dolar di kawasan regional.

Bank Indonesia (BI) langsung turun tangan dengan melakukan intervensi di pasar spot, Non-Deliverable Forward (NDF), Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), dan pasar sekunder obligasi pemerintah. Langkah ini diambil untuk meredam volatilitas dan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah gejolak pasar global.

Tekanan terhadap rupiah bukan berasal dari faktor domestik, melainkan dipicu oleh ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mendorong harga minyak dunia naik. Investor global cenderung mencari aset safe haven seperti dolar AS saat kondisi geopolitik memanas, sehingga mata uang negara berkembang seperti rupiah mengalami pelemahan.

Sepanjang tahun 2026, rupiah sudah terdepresiasi 3,54 persen terhadap dolar AS. Namun, para analis menilai bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih kuat dengan inflasi terkendali dan pertumbuhan ekonomi yang stabil. Pasar kini menanti data inflasi April dan neraca perdagangan yang akan dirilis minggu ini sebagai acuan arah pergerakan rupiah ke depan.