Jakarta, AksaraBaru.com – Mulai Juli 2026, Indonesia resmi menggelar bahan bakar biodiesel B50 untuk sektor transportasi, memicu pertanyaan para pemilik mobil diesel soal nasib performa mesin mereka. B50 adalah campuran 50 persen biodiesel sawit (FAME) dan 50 persen solar fosil yang dirancang untuk menekan emisi sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.
Sejumlah uji teknis menunjukkan, secara umum mesin diesel tetap aman memakai B50 selama spesifikasi bahan bakar terpenuhi dan perawatan rutin dijalankan. Namun, karena nilai kalor biodiesel lebih rendah dari solar murni, konsumsi B50 tercatat naik sekitar 1–3 persen dibanding B40 sehingga mobil terasa sedikit lebih boros dan tenaga sedikit menurun, terutama saat tanjakan atau membawa muatan berat.
Dampak lain yang perlu diwaspadai adalah filter bahan bakar yang lebih cepat kotor, karena sifat pelarut B50 yang melunturkan endapan lama di tangki dan saluran, sehingga filter bisa lebih sering minta ganti. Pakar menegaskan, risiko kerusakan besar justru muncul bila mobil diesel lama atau common rail modern dipaksa minum B50 tanpa dibarengi pengecekan berkala pada filter, sistem injeksi, dan kebersihan tangki.
