Jakarta, Aksarabaru.com Di jagat kesehatan digital Indonesia, nama dr Tirta Mandira Hudhi dan dr Agi Ramadhani sering muncul dalam satu obrolan, meski dengan gaya yang sangat berbeda. dr Tirta lebih dikenal sebagai dokter‑influencer yang piawai merangkai pesan medis dengan bahasa ceplas‑ceplos, sementara dr AGI (Agi Ramadhani, Sp.JP, FIHA) kerap menonjol sebagai dokter spesialis jantung yang aktif di dunia olahraga dan konsultasi kesehatan jantung di media sosial.
dr Tirta mulai populer lewat kritik pedas terhadap misinformasi kesehatan, kampanye pola tidur, gaya hidup “hustle culture”, dan kritik tajam di media sosial terhadap narasi kesehatan yang tidak berbasis data. Ia kerap menekankan “trias kesehatan” seperti tidur berkualitas, pola makan, dan olahraga, dan sering diundang sebagai pembicara di acara kesehatan populer.
Sebaliknya, dr AGI lebih banyak muncul di lingkaran pelari dan atlet, dengan konten seputar detak jantung, MAF training, lari, dan kesehatan jantung jangka panjang. Di TikTok dan Instagram, ia kerap berbagi tips untuk pelari pemula, batas aman detak jantung, serta cara menjaga kesehatan jantung dengan latihan aerobik terukur.
Secara garis besar, dr Tirta lebih kuat di ranah edukasi kesehatan populasi dan “dokter publik”, sementara dr AGI bergerak di niche kesehatan jantung dan performa olahraga. Keduanya menunjukkan bahwa ilmu kedokteran bisa tersampaikan efektif di media sosial, asal tetap menjaga rasio antara keterbacaan massal dan kedalaman klinis.
