Jakarta, AKSARABaru.com — Perayaan Idulfitri 1447 Hijriah di Indonesia menjadi momentum emas bagi kebangkitan industri kuliner tradisional yang diprediksi mencatatkan lonjakan transaksi sebesar 15 persen pada Maret 2026. Kekayaan rempah nusantara tidak hanya menghadirkan kelezatan sensorik, tetapi juga berfungsi sebagai perekat sosial melalui narasi budaya yang kuat di setiap hidangan. Terdapat delapan rekomendasi kuliner ikonik yang menjadi pilar utama perjamuan Lebaran tahun ini, dimulai dari Ketupat yang secara universal bersanding dengan Rendang daging khas Minangkabau yang memiliki kedalaman rasa rempah autentik.
Di wilayah Jawa, Opor Ayam dengan kuah santan kuning tetap mendominasi meja makan, sementara masyarakat Betawi mempertahankan eksistensi melalui Semur Daging yang bercita rasa manis legendaris. Beranjak ke Sumatra Utara, Lontong Sayur Medan menawarkan perpaduan tekstur yang dinamis, bersaing dengan keunikan Lemang bambu yang populer di tanah Kalimantan. Dari timur Indonesia, Coto Makassar menyuguhkan kekayaan kaldu yang kental, sedangkan Ayam Woku asal Manado memberikan sentuhan pedas segar yang melengkapi variasi menu hari raya secara inklusif.
Optimalisasi potensi kuliner lokal ini terbukti efektif menggerakkan roda ekonomi pelaku UMKM pangan di berbagai daerah secara berkelanjutan. Sinergi antara tradisi turun-temurun dan tren wisata gastronomi domestik menjadi variabel penentu dalam memperkokoh kedaulatan pangan nasional. Melalui perayaan Lebaran, kekayaan rasa Indonesia kian memantapkan posisinya sebagai identitas bangsa yang bernilai ekonomi tinggi di mata dunia.
