Penjualan Kendaraan Melambat, Industri Asuransi Perketat Manajemen Risiko di Kuartal I-2026

JAKARTA, AksaraBaru.com — Pelaku industri asuransi umum nasional bersikap lebih selektif dalam menyalurkan proteksi kendaraan bermotor menyusul stagnansi penjualan otomotif pada awal tahun 2026. Berdasarkan data terbaru Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), volume penjualan mobil nasional masih berfluktuasi akibat daya beli masyarakat yang tertekan suku bunga tinggi. Kondisi ini memaksa perusahaan asuransi untuk memperketat manajemen risiko guna menjaga rasio klaim tetap stabil di tengah ketidakpastian pasar.

Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) mencatat bahwa meskipun lini bisnis kendaraan bermotor masih menjadi kontributor premi terbesar, beban klaim cenderung meningkat akibat kenaikan harga suku cadang dan biaya perbaikan. Fenomena ini diperumit dengan penetrasi kendaraan listrik (EV) yang semakin masif, namun memiliki profil risiko yang berbeda dibandingkan kendaraan konvensional. Tingginya biaya penggantian komponen baterai menjadi variabel krusial yang diwaspadai oleh aktuaria perusahaan asuransi saat ini.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus mendorong penguatan tata kelola premi agar tarif asuransi tetap kompetitif namun mampu menopang ketahanan industri. Perusahaan asuransi kini lebih mengandalkan integrasi data digital untuk memitigasi potensi kecurangan klaim dan memastikan keberlanjutan bisnis di tengah dinamika ekosistem otomotif yang kian kompleks.