Integrasi 35 Bandara Tuntas, InJourney Airports Kini Menjadi Operator Bandara Terbesar Kelima Dunia

Jakarta, AksaraBaru.com — Proses integrasi pengelolaan 35 bandara kelas utama di Indonesia telah rampung sepenuhnya, menandai babak baru transformasi infrastruktur penerbangan nasional yang dipusatkan di bawah naungan InJourney Airports. Pencapaian ini secara resmi menempatkan BUMN pengelola bandara Indonesia sebagai operator aerodrome terbesar kelima di dunia berdasarkan jumlah penumpang yang dilayani, melampaui sejumlah operator bandara besar di Eropa dan Asia Tenggara.

Direktur Utama InJourney Airports Faik Fahmi menyatakan bahwa integrasi ini bukan sekadar konsolidasi aset, melainkan langkah strategis untuk meningkatkan efisiensi operasional dan daya saing global. “Dengan mengelola 35 bandara secara terintegrasi, kami dapat menerapkan standar operasional seragam, optimalisasi sumber daya, dan pengembangan layanan yang berorientasi pada kebutuhan penumpang modern,” ujarnya dalam peresmian integrasi di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Cengkareng, Selasa.

Transformasi ini mencakup penyeragaman sistem manajemen bandara berbasis teknologi digital, implementasi standar keamanan dan keselamatan penerbangan internasional, serta harmonisasi tarif layanan bandara di seluruh Indonesia. Integrasi juga memungkinkan pengembangan jaringan rute penerbangan domestik yang lebih efisien dengan konsep hub-and-spoke yang menghubungkan berbagai wilayah kepulauan.

Ke depannya, InJourney Airports menargetkan peningkatan kapasitas penanganan penumpang menjadi 250 juta per tahun pada 2027, meningkat signifikan dari kapasitas saat ini sekitar 180 juta penumpang. Penguatan ini didukung oleh rencana pengembangan infrastruktur bandara di destinasi wisata prioritas seperti Labuan Bajo, Likupang, dan Mandalika untuk mendukung pariwisata berkelas dunia.

Dengan pengakuan internasional yang semakin kuat, InJourney Airports optimistis mampu menarik lebih banyak maskapai penerbangan global untuk membuka rute baru ke Indonesia, sekaligus meningkatkan pendapatan negara dari sektor aviasi yang diproyeksikan mencapai Rp45 triliun pada akhir 2026. Langkah ini sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai hub penerbangan regional di Asia Tenggara.