JAKARTA, Aksarabaru.com – Sejumlah indikator menunjukkan harga mobil di Indonesia berpotensi naik dalam waktu dekat. Industri otomotif tertekan pelemahan rupiah yang sempat mendekati Rp 17.000 per dolar AS, sementara porsi komponen impor dalam produksi mobil masih besar. Astra Daihatsu Motor menyiratkan, bila kurs lemah bertahan, penyesuaian harga jual hampir tak terhindarkan.
Di sisi pajak, beban konsumen juga bertambah. Kajian Katadata mencatat harga mobil baru di Indonesia historis naik sekitar 7 persen per tahun, didorong kenaikan biaya material, logistik, dan kebijakan pajak, termasuk pemberlakuan PPN 12 persen mulai 2025. Awal 2026, sejumlah pabrikan LCGC sudah mengerek harga Rp 600 ribu hingga Rp 1,7 juta per unit sebagai penyesuaian tahap awal.
Pada saat yang sama, penjualan mobil sedang tidak dalam kondisi ideal. Data Gaikindo menunjukkan wholesales 2025 hanya 803.687 unit, turun 7,2 persen dari 865.723 unit pada 2024. Ekonom menilai pasar 2026 belum sepenuhnya pulih dan sangat bergantung pada penurunan suku bunga kredit serta perbaikan daya beli, sehingga ruang diskon makin sempit dan skenario kenaikan harga mobil makin nyata.
