Pergeseran Pola Konsumsi Remaja Tengger: Modernisasi di Balik Tradisi Pangan

Potret Perubahan Kebiasaan Makan dan Gaya Hidup Remaja Suku Tengger  Universitas Airlangga Official Website

JAKARTA, AksaraBaru.com — Modernisasi yang merambah kawasan dataran tinggi Bromo memicu pergeseran fundamental pada gaya hidup dan pola konsumsi remaja Suku Tengger. Riset terbaru dari Universitas Airlangga mengonfirmasi adanya transisi pangan yang signifikan, di mana generasi muda setempat mulai meninggalkan konsumsi hasil bumi tradisional seperti jagung dan ubi-ubian, beralih ke makanan olahan instan yang lebih praktis namun rendah nutrisi. Masifnya aktivitas pariwisata dan keterbukaan akses informasi digital menjadi katalis utama yang mengubah wajah kuliner tradisional di wilayah pegunungan tersebut.

Fenomena ini tidak hanya menyasar aspek preferensi rasa, tetapi juga berdampak pada berkurangnya aktivitas fisik tradisional seiring dengan perubahan moda transportasi di medan curam. Para peneliti menekankan bahwa penetrasi budaya luar yang tidak terfilter telah mengikis ketergantungan generasi muda terhadap kedaulatan pangan lokal yang sebelumnya menjadi pilar kekuatan fisik masyarakat Tengger. Dampak jangka panjang dari perubahan ini dikhawatirkan akan memicu peningkatan risiko penyakit tidak menular di kalangan penduduk asli yang sebelumnya memiliki pola hidup sangat organik.

Upaya mitigasi melalui edukasi gizi berbasis kearifan lokal kini menjadi urgensi bagi otoritas kesehatan dan pendidikan di daerah. Penjagaan terhadap pola makan tradisional dinilai bukan sekadar urusan kesehatan masyarakat, melainkan upaya strategis untuk merawat identitas budaya dan ketahanan pangan masyarakat Tengger di tengah kepungan gaya hidup modern yang kian agresif.